Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa, laju inflasi year on year (y-on-y) selama periode Januari hingga Oktober 2025 menunjukkan tren meningkat secara bertahap dengan beberapa fluktuasi musiman.
Januari 2025: 0,18%
Februari 2025: 0,15%
Maret 2025: 0,68%
April 2025: 1,39%
Mei 2025: 1,81%
Juni 2025: 3,02%
Juli 2025: 3,29%
Agustus 2025: 2,35%
September 2025: 2,59%
Oktober 2025: 2,99%
Dari grafik tersebut terlihat bahwa inflasi cenderung meningkat signifikan pada pertengahan tahun (Juni–Juli) sebelum sedikit melandai di Agustus dan kembali naik di Oktober.
Kenaikan Inflasi di Pertengahan Tahun (Juni–Juli)
Lonjakan inflasi hingga mencapai 3,29% di Juli diduga berkaitan dengan meningkatnya permintaan bahan pokok dan jasa menjelang dan setelah momen libur panjang pertengahan tahun (Iduladha dan libur sekolah). Komoditas seperti daging ayam, cabai merah, dan bahan bakar rumah tangga berperan besar dalam peningkatan harga.
Perlambatan di Agustus dan September
Setelah puncak inflasi, terjadi penurunan ke 2,35% pada Agustus, menunjukkan stabilisasi harga seiring masuknya musim panen dan normalisasi permintaan pasca-libur. Namun, tekanan harga tetap ada di sektor transportasi dan perawatan pribadi.
Kenaikan Kembali di Oktober (2,99%)
Inflasi kembali naik menjelang akhir tahun dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan, produk perawatan pribadi, dan bahan pangan tertentu seperti cabai merah dan ikan laut. Kenaikan ini bersifat musiman, menjelang momen akhir tahun dan antisipasi fluktuasi pasokan.
Dibandingkan posisi inflasi awal tahun yang hanya 0,18% di Januari, inflasi Oktober meningkat lebih dari 16 kali lipat, menandakan adanya tekanan harga kumulatif yang berlangsung sepanjang 2025. Namun demikian, secara umum tingkat inflasi 2,99% masih tergolong terkendali, karena masih berada dalam rentang target inflasi nasional 2,5 ± 1 persen.
Daya beli masyarakat masih relatif stabil, namun perlu diwaspadai peningkatan biaya kebutuhan rumah tangga menjelang akhir tahun.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) diharapkan memperkuat koordinasi dengan sektor perdagangan dan pangan untuk menjaga pasokan komoditas penting.
Pemantauan harga bahan pokok, transportasi, dan emas perhiasan perlu ditingkatkan karena menjadi penyumbang terbesar inflasi lokal.
Upaya diversifikasi sumber pangan lokal dan stabilisasi distribusi barang dapat menjadi strategi jangka menengah untuk meredam tekanan harga musiman.
Secara keseluruhan, inflasi Kabupaten Sumbawa Januari–Oktober 2025 menunjukkan tren meningkat dengan karakter fluktuatif namun terkendali. Puncak inflasi terjadi pada Juli (3,29%), kemudian sedikit melandai sebelum naik lagi di Oktober (2,99%).
Kondisi ini menggambarkan stabilitas ekonomi daerah yang cukup baik, dengan tantangan utama pada pengendalian harga komoditas pangan dan jasa non-esensial. Konsistensi Pemkab Sumbawa dalam publikasi data ekonomi melalui BPS menjadi bagian penting dari transparansi, akuntabilitas publik, dan perencanaan kebijakan berbasis data. (KH74)
artikel berita ini dibuat untuk keperluan publikasi dan transparansi kegiatan Pemkab Sumbawa
sumber : Publikasi Data BPS Sumbawa