BERITA DETAIL
Inflasi Kabupaten Sumbawa September 2025 Terkendali di Angka 2,59 Persen

Inflasi Kabupaten Sumbawa September 2025 Terkendali di Angka 2,59 Persen

22 Oktober 2025   152

 

 

Sumbawa, ppid.sumbawakab.go.id/22 Oktober 2025 — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,59 persen pada September 2025, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 108,28. Sementara itu, inflasi month-to-month (m-to-m) tercatat 0,11 persen, dan inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 1,19 persen.

Kepala BPS Kabupaten Sumbawa, Yudi Wahyudin, menyampaikan bahwa inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga di hampir semua kelompok pengeluaran rumah tangga, terutama kelompok makanan, minuman dan tembakau (3,19%), serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (14,29%).

Komoditas utama penyumbang inflasi di antaranya adalah emas perhiasan, ikan teri, daging ayam ras, bawang merah, rokok kretek mesin, dan jeruk.
Sementara itu, angkutan udara dan bensin justru memberikan andil deflasi atau penurunan harga dalam kelompok transportasi (-0,16%).

Secara umum, kondisi inflasi di Sumbawa masih dalam kategori terkendali dan berada di bawah ambang batas target nasional yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (2,5 ± 1%). Artinya, kestabilan harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga dengan baik hingga akhir triwulan III 2025.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian harga, terutama bahan pangan dan energi, berjalan cukup efektif di Kabupaten Sumbawa,” ujar Yudi Wahyudin.


Analisis Kualitatif

1. Tren dan Pola Inflasi

Inflasi tahunan Sumbawa sebesar 2,59% tergolong rendah dan stabil, mencerminkan kondisi makro ekonomi daerah yang sehat.
Kelompok yang paling berpengaruh:

  • Makanan, minuman, dan tembakau: naik 3,19% (kontributor terbesar inflasi).

  • Perawatan pribadi dan jasa lainnya: naik signifikan hingga 14,29% (terutama dipengaruhi harga emas perhiasan).

  • Transportasi: mencatat deflasi (-0,16%) karena penurunan tarif angkutan udara.

Peningkatan harga pangan dan perawatan pribadi masih menjadi faktor utama yang perlu diantisipasi, terutama menjelang akhir tahun saat permintaan domestik meningkat.

2. Keterkaitan dengan Kesejahteraan Masyarakat

Kenaikan harga pangan seperti ayam ras, bawang merah, cabai merah, dan ikan laut berpotensi menekan daya beli rumah tangga berpenghasilan rendah. Namun, deflasi di sektor transportasi memberikan ruang positif bagi distribusi barang dan jasa, khususnya di wilayah perdesaan.

3. Implikasi Ekonomi Daerah

Stabilitas inflasi ini memperlihatkan efektivitas koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumbawa bersama BPS dan instansi teknis lainnya.
Dengan inflasi yang terkendali, investasi daerah, pertumbuhan UMKM, dan konsumsi masyarakat tetap berada dalam tren positif.


Rekomendasi Kebijakan untuk Pemerintah Daerah

  1. Penguatan Ketahanan Pangan Lokal

    • Dorong produksi dan distribusi komoditas strategis seperti bawang merah, cabai, ayam, dan ikan agar tidak bergantung pada pasokan luar daerah.

    • Fasilitasi stabilisasi harga melalui pasar tani dan gudang ketahanan pangan.

  2. Pengendalian Harga Musiman

    • Lakukan operasi pasar dan monitoring harga menjelang hari besar keagamaan atau musim tanam/panen.

  3. Diversifikasi Ekonomi Desa

    • Kembangkan ekonomi produktif berbasis pertanian, peternakan, dan industri rumah tangga agar masyarakat lebih tahan terhadap fluktuasi harga.

  4. Kebijakan Proaktif di Sektor Energi dan Transportasi

    • Pertahankan efisiensi distribusi bahan bakar dan transportasi publik agar deflasi transportasi tetap menopang kestabilan harga.

  5. Edukasi Keuangan Rumah Tangga

    • Sosialisasi literasi ekonomi untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengelola pengeluaran saat harga kebutuhan meningkat. (KH74)


artikel berita ini dibuat untuk publikasi dan transparansi kegiatan Pemkab Sumbawa